Sabtu, 24 November 2012

METROLOGI INDUSTRI

A. Alat-Alat Ukur Sederhana

                  Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan besaran standar.Sebuah alat ukur mempunyai 3 komponen utama yaitu sensor, pengubah dan pencatat/penunjuk.
a. Sensor atau peraba
                Sensor merupakan bagian dari alat ukur yang menghubungkan alat ukur dengan benda atau obyek ukur,sebagai peraba dari alat ukur sensor akan kontak langsung dengan benda ukur.
b. Pengubah
             Pengubah berfungsi sebagai penerus, pengubah atau pengolah semua isyarat yang diterima oleh sensor / berfungsi untuk memperjelas dan memperbesar perbedaan yang kecil dari dimensi benda ukur.
c. Penunjuk/pencatat
               Dari bagian penunjuk inilah dapat dibaca atau diketahui besarnya harga hasil pengukuran.Penunjuk dibedakan menjadi dua yaitu penunjuk yang mempunyai skala dan penunjuk berangka ( sistem digital )

B. Cara Pengukuran

a. Pengukuran Langsung
            Pengukuran langsung merupakan proses pengukuran yang hasil pengukurannya dapat dibaca langsung dari alat ukur yang digunakan, contoh pengukuran dengan jangka sorong atau mikrometer.
b. Pengukuran Tidak Langsung
                 Pengukuran yang hasilnya tidak bisa langsung dapat dibaca, biasanya untuk mengukur satu benda ukur diperlukan satu atau dua alat ukur standar, alat ukur pembanding dan alat ukur pembantu.Contoh : mengukur ketirusan poros menggunakan senter sinus dibantu dial indikator dan blok ukur.
c. Pengukuran dengan Kaliber Batas
                  Pengukuran yang digunakan hanya  untuk melihat apakah benda yang dibuat masih dalam batas - batas toleransi tertentu.Biasanya adalah kaliber batas Go dan No Go.Jenis pengukuran ini lebih banyak digunakan untuk pengukuran dalam jumlah banyak dan membutuhkan waktu yang cepat. Dimensi obyek ukur yang masih dalam batas toleransi dianggap baik dan dipakai,sedangkan yang diluar batas toleransi dianggap jelek.
d. Pengukuran dengan Bentuk Standar
                 Pengukuran ini bersifat membandingkan bentuk benda yang dibuat dengan bentuk standar yang digunakan sebagai alat pembanding, misal pengukuran ulir dengan mal ulir, sifatnya tidak membaca besarnya ukuran tetapi mencocokkan bentuk.
 C. Klasifikasi Alat Ukur

Menurut cara kerja, alat ukur diklasifikasikan menjadi : 
  • alat ukur mekanis
  • alat ukur elektris 
  • alat ukur optis 
  • alat ukur mekanis optis dan 
  • alat ukur pneumatis
Menurut sifat dari alat ukur :
a. Alat ukur langsung : hasil pengukurannya dapat langsung dibaca pada skala ukurannya. Contoh jangka sorong, mikrometer, mistar baja, height gauge.
b. Alat ukur pembanding : alat ukur yang mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi. Misal jam ukur ( dial indicator ), pembanding ( comparator )
c. Alat ukur standar, alat ukur yang mempunyai harga ukur tertentu. Misal blok ukur ( block gauge ),batang ukur ( length bar ), dan master ketinggian ( height master ).
d. Alat ukur batas, alat ukur yang digunakan untuk menentukan apakah suatu dimensi obyek ukur masih terletak dalam batas-batas toleransi ukuran. Misal kaliber batas Go dan No Go
e. Alat ukur bantu, alat ukur yang sifatnya hanya sebagai pembantu dalam proses pengukuran. Misal dudukan mikrometer, penyangga/pemegang jam ukur.
Menurut jenis dari benda yang akan diukur :
a. Alat ukur linier : alat ukur linier langsung maupun alat ukur linier tak langsung.
b. Alat ukur sudut atau kemiringan : ada alat ukur sudut yang langsung bisa dibaca hasil ukurannya ada juga yang membutuhkan perhitungan matematis.
c. Alat ukur kedataran.
d. Alat ukur untukmengukur profil atau bentuk.
e. Alat ukur ulir.
f. Alat ukur roda gigi
g. Alat ukur mengecek kekasaran.

SUMBER - SUMBER KESALAHAN PENGUKURAN
a. Kesalahan pengukuran karena alat ukur
           Kesalahan pengukuran dapat diakibatkan oleh kondisi alat ukur. Untuk mengurangi terjadinya penyimpangan pengukuran seminimal mungkin maka alat ukur yang akan dipakai harus dikalibrasi untuk menghindari sifat-sifat yang merugikan dari alat ukur, seperti kestabilan nol, kepasifan, pengambangan dan sebagainya.
b. Kesalahan pengukuran karena benda ukur
                Benda ukur  yang terbuat dari bahan yang bersifat elastis atau yang mempunyai sifat elastis, artinya bila ada beban atau tekanan yang dikenakan pada benda tersebut maka akan terjadi perubahan bentuk. Bila tidak hati - hati dalam mengukur maka penyimpangan hasil pengukuran pasti akan terjadi. 
c. Kesalahan pengukuran karena faktor si pengukur
                Manusia memang mempunyai sifat tersendiri dan keterbatasan. Sulit diperoleh hasil yang sama dari dua orang yang melakukan pengukuran meskipun alat ukur sama dan benda ukur juga sama. Hal ini mungkin karena kondisi manusia, kesalahan penggunaan metode pengukuran,kesalahan karena pembacaan skala ukur.
d. Kesalahan karena kondisi manusia
                Kondisi badan yang kurang sehat sewaktu mengukur mungkin badan agak gemetar, maka posisi alat ukur terhadap benda ukur sedikit mengalami perubahan akibatnya hasil pengukuran ada penyimpangan, penglihatan yang kurang jelas juga bisa mengakibatkan kesalahan pembacaan skala ukur.
e. Kesalahan karena pembacaan skala ukur.
              Kebanyakan yang terjadi karena kesalahan posisi waktu membaca skala ukur atau istilahnya paralaks, si pengukur yang kurang memahami pembagian divisi dari skala ukur dan kurang mengerti membaca skala ukur yang ketelitiannya lebih kecil daripada yang biasanya sering digunakan.
f. Kesalahan karena faktor lingkungan
              Ruang yang digunakan untuk pengukuran harus bersih, terang dan teratur rapi letak peralatan ukurnya. Ruang yang kurang terang atau remang - remang dapat mengganggu dalam membaca skala ukur.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar